 | | Judul Buku | : | Memayu Hayuning Bawana: 50 Tahun SENAWANGI | | Pengarang | : | KRT. Sumari, S.Sn., M.M. Marsekal Madya TNI (Purn.) FH. Bambang Soelistyo, S.Sos | | ISBN | : | | | Tahun Terbit | : | 2026 | | Jumlah Halaman | : | 277 | | Harga | : | Rp. 50.000 | | Stok | : | 60 | | | Download |
Deskripsi: Memayu Hayuning Bawana: 50 Tahun SENAWANGI merupakan buku dokumenter sejarah, refleksi budaya, dan catatan perjalanan organisasi yang merekam kiprah Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI) selama setengah abad, sejak berdiri pada 12 Agustus 1975 hingga tahun 2025. Buku ini tidak sekadar menyajikan kronologi organisasi, melainkan juga menghadirkan narasi tentang perjuangan kolektif para pegiat budaya dalam menjaga, mengembangkan, dan memajukan wayang sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.
Berangkat dari filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawana, yang bermakna memperindah dan memperbaiki tatanan kehidupan demi terciptanya harmoni antara manusia, budaya, dan alam semesta, buku ini menempatkan wayang bukan hanya sebagai seni pertunjukan, melainkan sebagai media pendidikan karakter, pembentukan jati diri bangsa, serta sarana diplomasi budaya Indonesia di tingkat dunia.
Di dalamnya tersaji kisah perjuangan SENAWANGI dalam mengantarkan wayang Indonesia memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2003, mendorong lahirnya Hari Wayang Nasional, mengembangkan kajian filsafat wayang di perguruan tinggi, membangun jejaring internasional, hingga membina generasi baru seniman dan pelaku pewayangan Indonesia.
Dilengkapi foto-foto bersejarah, arsip organisasi, dokumentasi kegiatan nasional dan internasional, serta berbagai testimoni tokoh bangsa, buku ini menjadi referensi penting bagi akademisi, pemerhati budaya, pembuat kebijakan, dan generasi muda yang ingin memahami peran strategis wayang dalam perjalanan kebudayaan Indonesia.
Sinopsis: Lima puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam rentang waktu itu, SENAWANGI hadir sebagai penjaga api kebudayaan yang memastikan wayang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Buku Memayu Hayuning Bawana: 50 Tahun SENAWANGI mengajak pembaca menelusuri jejak panjang organisasi yang lahir dari Kongres Nasional Pewayangan Indonesia tahun 1975 dan kemudian berkembang menjadi institusi terdepan dalam pelestarian serta pemajuan wayang Indonesia. Di tengah arus globalisasi, perubahan teknologi, dan pergeseran budaya generasi muda, SENAWANGI terus berupaya menjaga relevansi wayang sebagai sumber nilai, pendidikan moral, dan identitas kebangsaan.
Melalui berbagai program, mulai dari penelitian, pengembangan filsafat wayang, festival budaya, revitalisasi kesenian tradisional, hingga kerja sama internasional, SENAWANGI membuktikan bahwa wayang bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan budaya yang mampu menjawab tantangan masa depan. Perjuangan panjang tersebut mencapai tonggak penting ketika dunia mengakui wayang Indonesia sebagai mahakarya budaya dunia melalui UNESCO.
Lebih dari sekadar sejarah organisasi, buku ini adalah kisah tentang dedikasi, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Sebuah cerita mengenai bagaimana wayang terus menjadi “tuntunan” di tengah perubahan zaman, sekaligus menjadi sarana membangun karakter bangsa dan memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan kebudayaan global.
Memayu Hayuning Bawana bukan hanya catatan perjalanan SENAWANGI, tetapi juga refleksi tentang tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi dunia. Sebab, menjaga wayang berarti menjaga memori, nilai, dan peradaban bangsa.
|
|